Angin pagi dari Selat Makassar menyapa lembut wajah Jannia, seorang mahasiswi Antropologi yang sedang merampungkan tugas akhirnya di Mamuju. Ia berdiri di tepi pantai, memandang ke cakrawala. Di balik birunya laut dan hijaunya bukit-bukit, tersemat sebongkah harapan besar—harapan yang sama yang dibawa oleh leluhurnya di Tanah Manakarra. Jannia tahu, Mamuju bukan hanya tentang ibukota provinsi yang ramai. Ia adalah persimpangan suku, bahasa, dan topografi.
Harapan Pertama: Pohon Integritas yang Tumbuh Subur.
Harapan pertama yang selalu membayangi pikirannya adalah sirnanya bayang-bayang kelam "Money Politik" yang selama ini mencekik. Ia lelah melihat janji-janji kesejahteraan yang hanya menjadi bumbu kampanye. Ia berharap pemimpin masa depan adalah mereka yang berpegang teguh pada nilai-nilai siri' (malu dan harga diri) yang diajarkan dalam adat Mamuju—pemimpin yang menjadikan peningkatan kesejahteraan rakyat sebagai Malaqbi (kemuliaan) mereka, bukan sebagai alat tawar-menawar.
Harapan Kedua: Menenun Kembali Moral dan Etika
Jannia kemudian teringat pada kakeknya, Pue Saleh, yang selalu menanamkan nilai-nilai adat. "Nak," kata Pue Saleh, "kita ini orang Mamuju, punya Cenningate (ketulusan) dan To madoro (kejujuran). Itu moral kita. Kalau moral generasi sekarang dan selanjutnya kuat, kita akan kembali menjadi masyarakat yang satu."
Namun, Jannia merasakan kekhawatiran yang mendalam saat mengamati anak-anak di sekitarnya. Perkembangan teknologi yang pesat, alih-alih menjadi jendela ilmu, justru menggerus moral dan minat baca mereka. Layar gawai seolah telah menggantikan buku, memupuk budaya instan, dan memudarkan empati. Yang lebih menyedihkan, hal ini terjadi karena banyak orang tua yang dangkal pemahamannya tentang teknologi; mereka gagal mengimbangi laju digital, sehingga pengawasan terhadap konten dan waktu layar anak pun menjadi sangat minim.
Jannia berharap perbaikan moral generasi muda akan berlandaskan kokoh pada pepasang (petuah) leluhur, menjauh dari gaya hidup instan dan kembali menghargai proses, dengan dukungan penuh dari orang tua yang melek digital dan bijak dalam pengawasan.
Harapan Ketiga: Akses dan Pelayanan yang Adil
Ia juga memimpikan peningkatan pelayanan publik yang prima. Suatu hari, ia menyaksikan seorang ibu dari pegunungan harus menunggu berjam-jam di kantor layanan hanya karena kurangnya informasi dan sikap petugas yang kurang ramah. "Pelayanan yang kurang prima itu adalah wujud ketidakadilan," gumam Jannia. Ia berharap birokrasi di Mamuju akan menjadi wajah yang ramah, cepat, dan setara bagi semua warga, baik dari pesisir maupun pegunungan.
Harapan Keempat: Api Semangat Membaca
Di sudut kota, Jannia melihat sebuah sekolah yang sepi. Ia ingin melihat minat baca generasi sekarang hingga nanti meningkat. Bukan hanya membaca buku pelajaran, tetapi membaca sejarah, membaca dunia, dan yang terpenting, membaca diri sendiri. Ia bermimpi setiap desa punya perpustakaan kecil yang ramai, bukan sekadar tempat penyimpanan debu.
Harapan Kelima: Merangkul Seluruh Keberagaman (Menghilangkan Diskriminasi)
Ini adalah harapan yang paling mendesak di hati Jannia. Ia tahu betul, Mamuju adalah mozaik indah:
- Masyarakat pesisir dan pulau dengan dialek Mamuju yang khas.
- Masyarakat pedalaman dan pegunungan Mamuju yang berbahasa mirip dialek Mambi (Kabupaten Mamasa) atau orang mamuju biasa menyebutnya bahasa Pakkado'.
- Masyarakat Sinyonyoi yang dialeknya menyerupai bahasa Aralle (Kabupaten Mamasa).
"Kita semua adalah Mamuju!" desisnya. Ia mendengar bagaimana anak-anak di kota sering mendiskriminasi teman-teman mereka dari daerah gunung, hanya karena logat bahasa atau kondisi ekonomi yang berbeda. Itu adalah luka yang harus disembuhkan.
Jannia bertekad, diskriminasi terhadap saudara-saudara dari daerah gunung harus hilang. Ia ingin semua orang sadar: berbahasa Mambi/Pakkado' atau Sinyonyoi bukan tanda ketertinggalan, melainkan bukti kekayaan budaya Mamuju yang luar biasa dan beragam.
Harapan Keenam: Mengangkat Permata Budaya yang Tersembunyi
Untuk mencapai harapan kelima, harus ada peningkatan pelestarian budaya dan kearifan lokal. Banyak budaya lokal Mamuju yang belum terekspos.
Jannia membayangkan:
- Ritual adat daerah pegunungan difilmkan secara profesional.
- Dialek Mambi/Pakkado' dan Sinyonyoi diabadikan dalam kamus digital.
- Kisah-kisah rakyat Mamuju dicetak dalam buku-buku yang menarik dan mudah dicari di internet.
"Hanya dengan begitu," pikir Jannia, "generasi kita akan tahu bahwa budaya Mamuju itu ternyata beragam dan berhenti memojokkan orang yang memakai bahasa gunung."
Tiba-tiba, ponsel Jannia berdering. Itu pesan dari seorang temannya di daerah pegunungan, yang kini berhasil mendapatkan beasiswa S2 nya Universitas Luar Negeri. Pesan itu hanya berisi satu kata dan satu emoji: "Semangat!"
Jannia tersenyum.
Fajar sudah meninggi. Jannia menyimpan ponselnya, membiarkan pasir hangat menyentuh kakinya. Di atas riak ombak yang berkejaran, ia melihat pantulan sinar pagi yang keemasan. Ia bukan lagi sekadar mahasiswi yang menyelesaikan tugas, melainkan penenun harapan.
Enam harapan besar itu kini terasa nyata, terangkai seperti untaian benang sutra yang ditenun oleh leluhur. Bumi Manakarra yang Malaqbi menanti kebangkitan yang sejati. Bukan fajar yang muncul sekali lalu tenggelam, tetapi fajar permanen yang bersemayam dalam integritas para pemimpin, ketulusan generasi mudanya, dan kesetaraan dalam keberagamannya. Jannia menarik napas dalam-dalam. Tekadnya bulat: ia akan menjadi bagian dari fajar itu, menyalakan pelita di antara tumpukan buku dan di tengah hiruk-pikuk digital, memastikan keagungan Manakarra tidak hanya dikenang, tetapi dihidupi.
Nidya Utari
Kalukku, 09 Desember 2025
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar