Judul Cerita:
Ketika Cinta
Bertasbih (Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa)
Pengarang:
Habiburrahman El
Shirazy
Penerbit:
Penerbit Republika
bekerja sama dengan Basmala Republika Corner (BRC)
Tahun Terbit:
Cetakan ke-10 dan ke-11 diterbitkan pada Februari
2008
Jumlah Halaman:
377 Halaman
Simfoni Iman di Bawah Langit Alexandria: Sebuah Perjalanan Mencari Ridha
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi
seorang "petarung" di negeri orang, bukan dengan pedang, melainkan
dengan cetakan tempe dan kuali bakso? Inilah dunia Khairul Azzam, tokoh sentral
dalam mahakarya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul Ketika Cinta
Bertasbih.
Potret Perjuangan yang Membumi
Azzam bukanlah sosok pahlawan tanpa cela yang hidup dalam
kemewahan akademis di Al-Azhar, Mesir. Sebaliknya, ia adalah mahasiswa
"abadi" yang rela menunda kelulusannya demi satu tujuan mulia:
menghidupi ibu dan adik-adiknya di Indonesia pasca kepergian sang ayah. Penulis
dengan apik menggambarkan Azzam sebagai sosok yang sangat realistis—ia berpeluh
di dapur saat dini hari untuk memproduksi tempe, namun tetap menjaga lidahnya
agar selalu basah dengan dzikir dan doa.
Labirin Hati: Antara Kesucian dan Gengsi
Keunikan buku ini terletak pada bagaimana cinta disajikan
bukan sebagai nafsu belaka, melainkan sebagai ujian keimanan. Azzam dihadapkan
pada dua kutub pesona: Eliana Pramesthi Alam, putri duta besar yang cerdas,
modern, namun jauh dari nilai-nilai kesucian yang ia pegang teguh.
Serta Anna Althafunnisa, bidadari kampus yang salehah namun
terasa mustahil untuk digapai bagi seorang "pembuat tempe" seperti
dirinya.
Konflik batin Azzam saat merasa "diremehkan"
secara akademis namun tetap berusaha menjaga harga diri sebagai lelaki beriman
memberikan kedalaman emosional yang jarang ditemukan dalam novel romansa religi
lainnya.
Lebih dari Sekadar Romansa
Novel ini juga membawa kita menyelami luka hati tokoh lain,
seperti Fadhil yang harus menjadi panitia pernikahan bagi wanita yang
dicintainya. Ada pesan kuat tentang itsaar (mendahului kepentingan orang lain)
dan kepasrahan total pada takdir Allah yang diramu dengan latar kota Alexandria
dan Kairo yang memesona.
Mengapa Anda Harus Membacanya?
Ketika Cinta Bertasbih bukan sekadar bacaan pengisi waktu
luang. Ini adalah sebuah "Dwilogi Pembangun Jiwa" yang mengajak kita
bercermin. Apakah kita sudah cukup tangguh menghadapi ujian hidup? Dan yang
paling penting, apakah cinta kita sudah membuat hati kita bertasbih, atau
justru menjauhkan kita dari Sang Pemilik Cinta?
Kesimpulan
Habiburrahman El Shirazy kembali membuktikan kepiawaiannya merangkai sastra Islami yang bergizi tanpa terasa menggurui10. Bagi Anda yang mencari inspirasi tentang kerja keras, bakti kepada keluarga, dan seni menjaga hati, buku ini adalah jawabannya.
“Cinta sejati
itu tidak menzalimi. Cinta sejati berorientasi ridha Ilahi.”
Resensi oleh: Nino

Tidak ada komentar:
Posting Komentar