Menyentuh Lidah Api yang Tak Pernah Padam: Sebuah Ulasan
Kumpulan Sajak
Judul Buku : Ayat-ayat Api
Pengarang : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Utama
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 88 Halaman
Pembukaan: Antara Kelembutan Hujan dan Bahasa yang Membakar
Sapardi Djoko Damono (akrab disapa SDD) sering kali dikenal
sebagai penyair hujan, yang puisinya mengalir tenang seperti air, menenangkan.
Namun, dalam kumpulan sajak Ayat-ayat Api, SDD justru membawa kita ke sisi yang
lebih panas, lebih politis, dan lebih gelisah.
Kumpulan sajak ini adalah paradoks yang memikat: ia
berbicara tentang api sebagai lambang kehidupan yang tak bisa menjadi fosil,
lambang keberanian, sekaligus lambang luluh-lantak. Ini bukan sekadar kumpulan
puisi biasa, melainkan jurnal intim seorang penyair yang mendokumentasikan
gejolak sosial dan pribadi pada akhir milenium, melalui metafora yang cerdas
dan mendalam.
Mengapa Kumpulan Sajak Ini Begitu Berharga?
1. Api sebagai Metafora Multidimensi
Keunikan utama Ayat-ayat Api adalah penguasaan
metafora "api" oleh SDD. Api di sini melampaui makna harfiahnya. Ia
adalah:
- Api
Pemberontakan: Sajak-sajak yang ditulis pada periode 1993-1996, terutama
yang menyinggung nama-nama spesifik seperti "Marsinah",
menunjukkan api perlawanan, keberanian kelas pekerja, dan kritik sosial
terhadap kekuasaan.
- Api
Diri: Api yang membakar dalam batin, semangat yang menolak padam, sebuah
dorongan untuk terus hidup meski luluh-lantak oleh badai.
- Api
Keabadian: Sebagaimana puisi "Ayat-Ayat Api" itu sendiri yang
menyatakan bahwa api adalah lambang kehidupan yang takkan pernah mati.
SDD berhasil merangkai sajak-sajak personal tentang cinta
dan kesunyian dengan sajak-sajak politik yang tajam, menjadikannya satu
kesatuan buku yang utuh dan berdenging.
2. Keintiman dalam Kegelisahan
Meskipun tema yang diangkat cukup berat dan seringkali sarat
kritik, SDD tetap mempertahankan gaya khasnya: sederhana, intim, dan jujur. Ia
tidak berteriak dalam puisinya; ia berbisik dengan suara yang menusuk.
Anda akan menemukan pengalaman membaca yang unik. Di satu
halaman Anda diajak merenung tentang "Dongeng Kucing" atau
"Tukang Kebun" yang terasa personal dan sehari-hari, lalu di halaman
berikutnya Anda dihadapkan pada sajak yang menggali luka sejarah, seperti
"Tentang Mahasiswa yang Mati" atau "Marsinah itu Arloji
Sejati". Perpindahan emosi ini terasa sangat nyata dan efektif,
menunjukkan bahwa isu sosial terbesar pun berakar dari kisah-kisah manusia yang
paling intim.
3. Sajak-Sajak yang Melintasi Masa
Kumpulan ini adalah "time capsule" (kapsul waktu)
yang abadi. Sajak-sajak yang diciptakan pada periode akhir Orde Baru ini, yang
seharusnya terasa usang, justru tetap relevan. Mereka berbicara tentang
ketidakadilan, korupsi, dan suara yang dibungkam—tema-tema yang, sayangnya,
terus berulang dalam sejarah peradaban manusia.
Penutup: Warisan Sang Maestro
Ayat-ayat Api adalah pengingat bahwa puisi bukan
hanya tentang keindahan diksi, tetapi juga tentang keberanian berujar. Bagi
Anda yang mengira puisi itu rumit atau berjarak, buku ini akan membuktikan
sebaliknya. Ia menawarkan bahasa yang jernih untuk emosi yang kompleks, dan
keberanian yang membara untuk kebenaran yang beku.
Buku ini wajib dimiliki oleh para penggemar sastra
Indonesia, dan siapa pun yang ingin memahami bahwa di balik kelembutan, seorang
penyair hebat selalu membawa bara api yang siap menyala.
Resensi Nino
4 Juni 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar