Yang Fana Adalah Waktu: Sebuah Ulasan untuk Epilog Cinta dan
Takdir (Trilogi Hujan Bulan Juni)
"Dalang tidak berpihak kepada nasib tetapi kepada
takdir."
Judul Buku : Yang Fana Adalah Waktu
Pengarang : Sapardi Djoko Damono (SDD)
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2017 (Diterbitkan pertama kali)
Jumlah Halaman : 152 Halaman
Pembukaan: Melangkah Keluar dari Bayangan Waktu
Sapardi Djoko Damono (SDD) adalah maestro kata yang biasanya
bermain di lahan puisi, menjadikan karya-karyanya seperti Hujan Bulan Juni
sebagai harta karun sastra Indonesia. Namun, ketika SDD memilih menulis novel,
ia tidak hanya sekadar bercerita; ia mengajak kita ke sebuah ruang yang
melampaui linearitas waktu itu sendiri.
Yang Fana Adalah Waktu adalah bagian penutup dari
trilogi yang dimulai dengan puisi legendaris, kemudian dilanjutkan dengan novel
pertama. Novel ini tidak hanya melanjutkan kisah Ping dan Sarwono, tetapi juga
berfungsi sebagai meditasi mendalam tentang konsep waktu, takdir, dan cinta
yang menolak untuk mati. Ini bukan novel biasa. Ini adalah sebuah sajak yang
dihidupkan menjadi narasi, sebuah kanvas di mana realitas dan mitos saling
berpelukan erat.
Keunikan yang Membuat Ulasan Ini Berbeda
1. Waktu Bukan Sekadar Latar, tapi Karakter Utama
Sesuai judulnya, novel ini menempatkan Waktu sebagai entitas
yang bisa ditekuk, dihancurkan, atau bahkan ditiadakan. Alur cerita tidak
bergerak lurus; ia melompat, mundur, dan berputar. SDD menggunakan teknik
penceritaan yang sangat metafiksi (di mana cerita sadar bahwa ia adalah
cerita), memungkinkan narator dan karakternya (terutama Sarwono) untuk
merenungkan eksistensi mereka sendiri dalam alur takdir.
Kita diajak menyelami pertanyaan: Jika cinta itu abadi,
mengapa ia harus terikat pada waktu yang fana? Penggunaan konsep Dalang yang
tidak berpihak pada nasib, melainkan pada takdir, memberikan nuansa
mistis-filosofis yang sangat khas Indonesia, mengubah kisah cinta biasa menjadi
sebuah pergelaran wayang kosmik.
2. Cinta yang Melawan Batasan Budaya dan Semesta
Kisah cinta antara Ping (perempuan muda dari luar Jawa) dan Sarwono
(dosen Sastra Jawa) telah menjadi ikon. Dalam novel ini, hubungan mereka
dihadapkan pada ujian terberat: perbedaan budaya yang menjadi tembok, dan upaya
untuk melepaskan diri dari siklus takdir yang sudah tertulis.
SDD merangkai elemen romansa, mitos Jawa (seperti konsep Reinkarnasi),
hingga perjalanan spiritual dengan begitu lembut. Bahkan saat adegan-adegan
terasa fantastis dan penuh metafora, inti emosionalnya tetap kuat: sebuah
kerinduan abadi yang berusaha menemukan jalan pulang.
3. Gaya Penulisan yang Puitis dan Merdu
Apa yang membedakan novel SDD dari novel lain adalah
bahasanya. Setiap kalimat terasa dipilih dengan cermat, memiliki ritme, dan
memiliki bobot seperti sebuah larik puisi. Pembaca tidak hanya membaca
alur cerita, tetapi juga merasakan getaran bahasa. Hal ini mungkin
membuat tempo penceritaan terasa lambat bagi sebagian orang, namun bagi pecinta
sastra, ini adalah pengalaman yang memuaskan dan menenangkan, seolah membaca
sambil mendengarkan musik klasik.
Kesimpulan (Untuk Siapa Novel Ini?)
Yang Fana Adalah Waktu adalah novel yang sempurna
untuk pembaca yang mencari kedalaman, bukan kecepatan. Novel ini ditujukan bagi
mereka yang menghargai keindahan bahasa, yang menyukai kisah cinta yang
disajikan dengan kearifan filosofis, dan yang siap dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan
besar tentang eksistensi, takdir, dan ketidakabadian.
Ini adalah epilog yang elegan dan puitis untuk sebuah kisah
legendaris, sebuah mahakarya yang membuktikan bahwa meskipun waktu itu fana,
karya sastra yang indah akan abadi.
Resensi Nino
1 Januari 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar